Jakarta (ANTARA) - Polusi udara menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat yang semakin mengkhawatirkan, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta dan sekitarnya. Paparan udara yang tercemar tidak hanya berdampak pada sistem pernapasan, tetapi juga dapat memengaruhi berbagai organ tubuh, mulai dari jantung, kulit, sistem pencernaan, hingga otak.
Guru Besar dan dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Prof. Dr. R. Budi Haryanto, S.K.M., M.Kes., M.Sc., mengatakan bahwa sebagian besar penyakit berkaitan dengan paparan polusi udara.
"Penyakit terkait polusi udara dari seluruh penyakit itu sekitar 60 persen," katanya di Jakarta, Selasa, dalam acara International Council on Clean Transportation (ICCT).
Ia menambahkan bahwa penyakit yang berkaitan dengan sanitasi dan kualitas air minum jumlahnya jauh lebih sedikit.
"Yang kaitannya dengan sanitasi, kualitas air minum, terus kemudian katakanlah semuanya yang masuk ke saluran cerna ya, diare dan sebagainya, itu cuma 15 persen," ia menambahkan.
Menurut Prof. Budi, dampak polusi udara umumnya muncul akibat paparan yang terjadi secara terus-menerus dalam jangka panjang. Berbagai polutan seperti sulfur oksida (SOx) dan nitrogen oksida (NOx) yang terhirup melalui saluran pernapasan dapat menyebar ke berbagai organ tubuh.
"Polusi udara dengan berbagai polutan yang ada di sana macam-macam. Kembali lagi bahwa polutan-polutan tersebut tergantung kita ada di mana," katanya.
"Itu semuanya kita masukin dalam tubuh lewat kita bernapas, yang tanpa bisa memilih, tanpa berhenti," ia menambahkan.
Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga menunjukkan bahwa sekitar 92 persen penduduk dunia masih menghirup udara dengan kualitas yang buruk. Kondisi tersebut diperkirakan menyebabkan sekitar 7 juta kematian setiap tahun, termasuk sekitar 2 juta kematian di kawasan Asia Tenggara akibat polusi udara luar maupun dalam ruangan.
Baca juga: Rumah dekat tol dapat tingkatkan risiko gangguan pernapasan anak
Berikut 10 penyakit yang dapat dipicu atau diperburuk oleh paparan polusi udara.
1. Asma
Polusi udara, terutama yang berasal dari emisi kendaraan bermotor, dapat memicu sekaligus memperburuk gejala asma. Penderita biasanya mengalami sesak napas, nyeri dada, batuk, hingga napas berbunyi atau mengi.
Meski asma tidak dapat disembuhkan sepenuhnya, gejalanya dapat dikendalikan melalui pengobatan yang tepat serta mengurangi paparan terhadap udara yang tercemar.
2. Infeksi saluran pernapasan (ISPA)
Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) tidak selalu disebabkan oleh virus atau bakteri. Paparan polusi udara juga dapat meningkatkan risiko terjadinya penyakit ini.
Berbagai zat berbahaya seperti karbon monoksida, partikulat, nitrogen dioksida, dan sulfur dioksida dapat mengiritasi saluran napas sehingga lebih rentan mengalami infeksi.
3. Sleep apnea
Polusi udara juga dikaitkan dengan meningkatnya risiko sleep apnea, yaitu gangguan tidur yang menyebabkan seseorang berhenti bernapas sementara saat tidur.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa polusi dapat memicu peradangan pada saluran napas sehingga menyebabkan pola napas tidak normal, sering terbangun di malam hari, bangun dengan rasa sesak, serta mengantuk pada siang hari.
4. Penyakit paru obstruktif kronis (PPOK)
Paparan polusi udara dalam jangka panjang dapat memperburuk penyakit paru obstruktif kronis atau PPOK.
Penyakit ini ditandai dengan batuk kronis, sesak napas, serta mengi yang semakin berat apabila penderita terus terpapar polusi atau asap rokok.
Baca juga: Udara Jakarta terburuk ketiga di dunia pada Kamis pagi
5. Gangguan kesuburan
Sejumlah penelitian menemukan bahwa kualitas udara yang buruk dapat memengaruhi kesehatan reproduksi.
Paparan polusi udara dikaitkan dengan meningkatnya risiko gangguan kesuburan, keguguran, serta penurunan kualitas sperma pada pria yang tinggal di daerah dengan tingkat polusi tinggi.
6. Kanker paru-paru
Polusi udara mengandung berbagai zat berbahaya, termasuk karbon monoksida dan senyawa lain yang bersifat karsinogenik.
Paparan dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko kanker paru-paru, terutama pada orang yang sering terpapar emisi kendaraan, asap industri, maupun polutan lainnya.
7. Penyakit jantung dan stroke
Tidak hanya menyerang paru-paru, polusi udara juga berdampak pada sistem kardiovaskular.
Paparan polutan dapat menyebabkan pembuluh darah menjadi lebih kaku dan menyempit sehingga meningkatkan risiko penyakit jantung serta stroke, terutama bila disertai pola hidup yang kurang sehat.
8. Bronkitis
Bronkitis merupakan peradangan pada saluran udara menuju paru-paru yang dapat dipicu oleh polusi udara.
Gejalanya meliputi batuk berdahak, sesak napas, demam, pilek, hingga tubuh terasa mudah lelah. Selain polusi, bronkitis juga dapat disebabkan oleh infeksi virus maupun bakteri.
Baca juga: Penggunaan pemurni udara mungkin pengaruhi kesehatan otak
9. Gangguan pencernaan
Paparan polusi udara ternyata tidak hanya berdampak pada sistem pernapasan.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa orang yang tinggal di daerah dengan tingkat polusi tinggi memiliki risiko lebih besar mengalami gangguan pencernaan, seperti penyakit Crohn, kolitis ulseratif, hingga sindrom iritasi usus besar (IBS). Gejalanya dapat berupa diare, mual, muntah, serta kram perut.
10. Penyakit kulit
Kulit juga menjadi salah satu organ yang rentan terdampak polusi udara.
Partikel polutan dapat menempel di permukaan kulit, menyumbat pori-pori, dan memicu peradangan. Akibatnya, risiko munculnya jerawat, eksim, dermatitis atopik, psoriasis, hingga hiperpigmentasi menjadi lebih tinggi.
Cara mengurangi risiko dampak polusi udara
Meskipun tidak selalu dapat menghindari paparan polusi udara, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mengurangi risikonya. Di antaranya menggunakan masker saat kualitas udara sedang buruk, membatasi aktivitas di luar ruangan ketika tingkat polusi tinggi, menggunakan penyaring udara (air purifier) di dalam ruangan jika memungkinkan, serta menjaga pola hidup sehat dengan rutin berolahraga, mengonsumsi makanan bergizi, dan tidak merokok.
Selain itu, masyarakat juga disarankan memantau indeks kualitas udara (Air Quality Index/AQI) sebelum beraktivitas di luar rumah. Dengan mengetahui kondisi kualitas udara, seseorang dapat mengambil langkah pencegahan yang sesuai untuk melindungi kesehatan diri dan keluarga.
Baca juga: Paparan polusi udara pada anak picu gangguan pernapasan hingga otak
Baca juga: Ahli kesehatan sebut 60 persen penyakit berkaitan dengan polusi udara
Pewarta: Raihan Fadilah
Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.